Table of Contents

Perbedaan Kurikulum 13 dan Merdeka Belajar: Model Pembelajaran, Metode Evaluasi, dan Alat Penilaian yang Digunakan

Sistem pendidikan di Indonesia selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, salah satunya adalah dengan adanya perbedaan kurikulum. Kini kita memiliki dua kurikulum yang berbeda yaitu Kurikulum 13 dan Merdeka Belajar. Dalam artikel ini, kita akan membahas perbedaan kedua kurikulum tersebut dari segi model pembelajaran, metode pembelajaran, serta alat evaluasi atau penilaian yang digunakan.

Perbedaan Filosofi dan Pendekatan

Kurikulum 13 atau K13

Kurikulum 13 diberlakukan sejak tahun 2013, memiliki filosofi dasar yang menekankan pada pengembangan kompetensi siswa dalam bidang akademik, keterampilan, dan sikap. K13 juga menekankan pada pengembangan kreativitas dan inovasi siswa, serta memberikan fleksibilitas bagi sekolah dalam menyusun dan mengembangkan program pembelajarannya sendiri. K13 memiliki pendekatan yang lebih konvensional dengan fokus pada pengembangan kompetensi siswa melalui pembelajaran yang berbasis konsep. Hal Ini diharapkan untuk dapat mempersiapkan siswa untuk menguasai materi yang diajarkan dan menjadi siswa yang akademis yang baik. Namun, pendekatan ini mungkin kurang efektif dalam menciptakan siswa yang kreatif, inovatif, dan mandiri.

Kurikulum Merdeka Belajar

Kurikulum Merdeka Belajar diperkenalkan pada tahun 2020, memiliki filosofi yang berbeda dengan K13. Merdeka Belajar mengutamakan pembelajaran yang berbasis pada proyek serta mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran. Kurikulum ini juga mengutamakan pembelajaran yang berbasis pada kompetensi, yang berfokus pada keterampilan dan sikap yang dibutuhkan oleh siswa di masa depan. Merdeka Belajar memiliki pendekatan dengan menekankan pada pembelajaran yang berbasis proyek dan aktivitas yang menyenangkan dalam proses pembelajaran. Merdeka Belajar juga lebih fleksibel dalam memberikan pilihan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki. Sedangkan K13 lebih menekankan pada materi yang harus dikuasai oleh siswa. Dalam hal implementasi, Merdeka Belajar diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dalam menciptakan siswa yang lebih mandiri, kreatif, dan inovatif. Pembelajaran yang berbasis proyek dan aktivitas diharapkan dapat meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam proses belajar, sehingga siswa dapat lebih memahami materi yang diajarkan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran yang berbasis kompetensi juga diharapkan dapat mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan di masa depan dan menjadi individu yang siap untuk berkontribusi dalam masyarakat.

Perbedaan Model Pembelajaran

Kurikukulum 13 atau K13

Model Pembelajaran Kurikulum 13 (K13) adalah model pembelajaran yang berbasis konsep atau klasikal. Model ini menempatkan guru sebagai fokus utama dalam proses pembelajaran dengan pendekatan yang lebih formal dan terstruktur. Dalam model ini, guru memberikan penjelasan materi secara cermat dan sistematis kepada siswa, siswa juga diberikan tugas dan latihan untuk memahami dan menguasai materi yang diajarkan. Model pembelajaran ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu:

  1. Tahap pengenalan: Guru memberikan pengenalan materi yang akan diajarkan dan menyampaikan tujuan pembelajaran.
  2. Tahap pembelajaran: Guru memberikan penjelasan materi yang akan diajarkan dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan diskusi.
  3. Tahap latihan: Siswa diberikan tugas dan latihan untuk memahami dan menguasai materi yang diajarkan.
  4. Tahap evaluasi: Guru melakukan evaluasi terhadap pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan melalui ujian tertulis

Kurikulum Merdeka Belajar

Model pembelajaran yang digunakan dalam Merdeka Belajar adalah :

  1. Problem-based learning (PBL): PBL adalah model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai pemecah masalah. Dalam PBL, siswa diharuskan untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan melalui diskusi kelompok dan melakukan penelitian. Dengan menggunakan PBL, siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat ke dalam konteks yang berbeda.
  2. Project-based learning (PjBL): PjBL adalah model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai pembuat proyek. Dalam PjBL, siswa diharuskan untuk menyelesaikan proyek yang diberikan melalui proses pembelajaran yang terstruktur dan melakukan penelitian. Dengan menggunakan PjBL, siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat ke dalam konteks yang berbeda.
  3. Inquiry-based learning (IBL): IBL adalah model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai pencari. Dalam IBL, siswa diharuskan untuk mengejar jawaban atas pertanyaan yang diberikan melalui proses penemuan dan penelitian yang mandiri. Siswa dibimbing oleh guru untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang diberikan dengan cara yang sesuai dengan kompetensi yang dikehendaki. Dengan menggunakan IBL, siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat ke dalam konteks yang berbeda.
  4. Discovery learning: Discovery learning adalah model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai penemu. Dalam Discovery learning, siswa diharuskan untuk menemukan sendiri konsep atau prinsip baru melalui proses eksplorasi dan observasi. Siswa dibimbing oleh guru untuk menemukan konsep atau prinsip baru dengan cara yang sesuai dengan kompetensi yang dikehendaki. Dengan menggunakan Discovery learning, siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat ke dalam konteks yang berbeda.
  5. Collaborative learning: Collaborative learning adalah model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai anggota dari kelompok belajar. Dalam collaborative learning, siswa bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas atau proyek yang diberikan. Siswa dibimbing oleh guru untuk bekerja sama dalam kelompok dengan cara yang sesuai dengan kompetensi yang dikehendaki. Dengan menggunakan Collaborative learning, siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat ke dalam konteks yang berbeda.
  6. Self-directed learning: Self-directed learning adalah model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai pembelajar yang mandiri. Dalam self-directed learning, siswa diberikan kebebasan untuk menentukan tujuan, strategi, dan sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Siswa dibimbing oleh guru untuk belajar secara mandiri dengan cara yang sesuai dengan kompetensi yang dikehendaki. Dengan menggunakan self-directed learning, siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat ke dalam konteks yang berbeda.

Dalam Merdeka Belajar, model pembelajaran yang digunakan cenderung lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Siswa diberikan kesempatan untuk belajar dengan cara yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya, sehingga dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Selain itu, Merdeka Belajar juga mengutamakan metode pembelajaran yang aktif, sehingga siswa dapat belajar dengan cara yang menyenangkan dan menyenangkan.

Perbedaan Metode Pembelajaran

Kurikulum 13 atau K13

Metode pembelajaran yang digunakan dalam Kurikulum 13 (K13) adalah metode ceramah, tanya jawab, dan diskusi.

  1. Metode ceramah: Metode ini digunakan oleh guru untuk memberikan penjelasan materi yang akan diajarkan. Dalam metode ini, guru memberikan penjelasan secara verbal dan visual dengan menggunakan media seperti gambar, grafik, atau video.
  2. Metode Tanya Jawab: Metode ini digunakan oleh guru untuk mengevaluasi pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Dalam metode ini, guru memberikan pertanyaan kepada siswa dan siswa diharapkan dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan baik dan tepat.
  3. Metode Diskusi: Metode ini digunakan untuk meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam proses belajar. Dalam metode ini, guru membimbing siswa untuk saling berbagi pendapat dan pemikiran tentang materi yang diajarkan.

Secara umum, metode pembelajaran yang digunakan dalam Kurikulum 13 (K13) ini bertujuan untuk memfasilitasi siswa dalam memahami dan menguasai materi yang diajarkan. Metode ceramah digunakan untuk memberikan penjelasan materi, metode tanya jawab digunakan untuk mengevaluasi pemahaman siswa, dan metode diskusi digunakan untuk meningkatkan partisipasi aktif siswa. Dengan menggunakan metode-metode ini, diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan mempersiapkan siswa untuk menjadi siswa yang akademis yang baik.

Kurikulum Merdeka Belajar

Dalam Merdeka Belajar, beberapa metode pembelajaran yang digunakan adalah:

  1. Experiential learning : Dalam metode ini, siswa belajar dengan cara mengalami atau melakukan sendiri. Siswa belajar melalui pengalaman yang didapat dari kegiatan nyata seperti field trip, magang, atau proyek yang berkaitan dengan bidang yang diajarkan
  2. Flipped learning : Metode ini mengubah pola pembelajaran tradisional dengan memfokuskan pada pembelajaran mandiri sebelum pertemuan di kelas dan interaksi dengan guru dan rekan selama pertemuan di kelas
  3. Learning by doing : Siswa diberikan kesempatan untuk belajar dengan cara mengerjakan atau melakukan suatu aktivitas atau tugas yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Metode ini memungkinkan siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat ke dalam konteks yang berbeda.
  4. Game-based learning : Siswa belajar dengan cara bermain game yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Game-based learning dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa serta mempermudah pemahaman siswa akan materi yang diajarkan.

Selain metode-metode tersebut, Merdeka Belajar juga dapat menggunakan metode lain yang sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa. Merdeka Belajar mengutamakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat belajar dengan cara yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

Perbedaan Alat Evaluasi

Kurikulum 13 atau K13

Alat evaluasi yang digunakan dalam Kurikulum 13 (K13) adalah:

  1. Observasi: Observasi adalah alat evaluasi yang digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Dalam observasi ini, guru melakukan pengamatan terhadap siswa saat berinteraksi dengan materi yang diajarkan.
  2. Tes tertulis: Tes tertulis adalah alat evaluasi yang digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Tes tertulis ini dapat berupa soal pilihan ganda, uraian, atau tes objektif lainnya yang terkait dengan materi yang diajarkan.
  3. Penilaian diri: Penilaian diri adalah alat evaluasi yang digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Dalam penilaian diri ini, siswa diharuskan untuk menilai sendiri pemahaman yang telah didapatkan selama pembelajaran. Penilaian diri ini dapat berupa tes mandiri atau self-assessment yang dikerjakan oleh siswa sendiri. Dengan melakukan penilaian diri, siswa dapat mengetahui kelemahan dan kekuatan dalam belajar sehingga dapat membuat rencana pembelajaran yang lebih efektif.

Kurikulum Merdeka Belajar

Dalam Merdeka Belajar, beberapa alat evaluasi yang digunakan adalah:

  1. Portofolio: Portofolio adalah kumpulan dokumen yang menunjukkan hasil belajar siswa. Portofolio dapat berupa tugas, proyek, atau produk yang dikerjakan oleh siswa selama proses belajar. Portofolio dapat digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa dalam jangka panjang.
  2. Self-assessment: Self-assessment adalah evaluasi yang dilakukan oleh siswa sendiri. Dalam self-assessment, siswa dapat mengevaluasi kemajuan belajar dan mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan dalam belajar.
  3. Peer-assessment: Peer-assessment adalah evaluasi yang dilakukan oleh rekan sebaya. Dalam peer-assessment, siswa dapat memperoleh umpan balik dari rekan sebaya tentang hasil belajar dan dapat mengevaluasi kemajuan belajar.
  4. Observation: Observation adalah evaluasi yang dilakukan dengan cara mengamati siswa saat belajar. Guru dapat mengamati proses belajar siswa dan mengevaluasi kemajuan belajar siswa.
  5. Test and Quiz: Test dan Quiz adalah alat evaluasi yang digunakan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa akan materi yang diajarkan. Test dan Quiz dapat digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa dalam jangka pendek.
  6. Project-based assessment: Project-based assessment adalah evaluasi yang dilakukan dengan cara mengevaluasi hasil proyek atau produk yang dikerjakan oleh siswa. Melalui project-based assessment, guru dapat mengevaluasi hasil belajar siswa dalam jangka panjang.
  7. Performance assessment: Performance assessment adalah evaluasi yang dilakukan dengan cara mengevaluasi kinerja siswa dalam suatu aktivitas atau tugas yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Melalui performance assessment, guru dapat mengevaluasi hasil belajar siswa dalam jangka panjang.

Dalam Merdeka Belajar, alat evaluasi digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa dan memberikan umpan balik yang dibutuhkan agar siswa dapat meningkatkan kemajuan belajarnya. Merdeka Belajar mengutamakan evaluasi yang berbasis kompetensi dan menyenangkan sehingga siswa dapat belajar dengan cara yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

Baca Artikel Lainnya

Makalah Kimia Organik Fisik: Kekuatan Asam dalam Senyawa Organik

pKa Kekuatan relatif asam dapat ditentukan dengan mengukur konstanta kesetimbangannya dalam larutan berair. Kekuatan asam dapat ditinjau dari nilai Ka (tetapan ionisasi asam), bila diketahui nilai-nilai tersebut maka dapat ditentukan mana asam

Instrumen Untuk Mengidentifikasi Miskonsepsi Pada Pembelajaran

Miskonsepsi adalah konsepsi yang bertentangan dengan teori secara ilmiah. Miskonsepsi ini menjadi suatu kesalahpahaman peserta didik terhadap suatu konsep tertentu sehingga dapat berpengaruh pada kegiatan pembelajaran. Selain itu, adanya miskonsepsi

Bahan-bahan Alami yang Digunakan dalam Pembuatan Edible Coating

Edible coating adalah lapisan pelindung yang dapat dikonsumsi yang digunakan untuk melindungi produk makanan dari perubahan kualitas selama penyimpanan dan pengangkutan. Edible coating dapat digunakan pada berbagai jenis produk makanan

Pembelajaran Quantum Learning: Apa Manfaat Bagiku (AMBAK)

Pengertian AMBAK AMBAK adalah singkatan dari “Apa Manfaatnya BagiKu”. Sebelum seseorang melakukan beberapa aktivitas belajar, konsep Quantum Learning menyarankan untuk mengajukan pertanyaan pada diri sendiri, “Apa Manfaatnya BagiKu?”. Segala sesuatu

Urutan Pemanasan Yang Efektif Sebelum Olahraga

Pemanasan adalah bagian penting dari setiap rutinitas olahraga. Ini adalah langkah yang sering diabaikan oleh banyak orang, tetapi sebenarnya sangat penting untuk mempersiapkan tubuh Anda sebelum melakukan aktivitas fisik yang

Hidrokoloid: Pengertian, Karakteristik, dan Sumber Hidrokoloid

Pengertian Hidrokoloid Hidrokoloid merupakan komponen polimer yang berasal dari sayuran, hewan, mikroba atau komponen sintetik yang umumnya mengandung gugus hidroksil. Komponen polimer ini dapat larut dalam air, mampu membentuk koloid,